Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Koneksi Antar Materi 3.3

 

Dalam modul 3 Pendidikan Guru Penggerak, saya belajar bahwa pengambilan keputusan dapat bergeser dari pendekatan berbasis masalah (defisit based) menjadi pendekatan berbasis aset. Sekarang, saya memandang semua hal dari sisi yang positif dan melihat kelebihan sebagai aset yang berharga. Menerapkan pendekatan berbasis aset ini memungkinkan saya merancang keputusan atau program yang berdampak positif pada murid dengan lebih mudah. Pendekatan ini telah mengubah paradigma saya dalam pengambilan keputusan.

Dalam modul ini, saya juga belajar tentang pentingnya kepemimpinan murid (student agency) dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Kepemimpinan murid memberikan mereka suara, pilihan, dan kepemilikan dalam proses belajar mereka sendiri, dan guru memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan kepemimpinan murid.

Dalam modul-modul sebelumnya, saya melihat keterkaitan yang erat dengan modul ini. Modul 1.1 menekankan pentingnya guru sebagai pembimbing yang membantu murid untuk bahagia dan berkembang sesuai dengan kodrat mereka. Modul 1.2 membahas nilai dan peran guru penggerak, yang juga relevan dengan peran guru dalam pengelolaan program sekolah yang berpihak pada murid. Modul 1.3 membahas visi guru penggerak dan pendekatan manajemen perubahan, yang relevan dengan pengembangan program sekolah yang berdampak pada murid. Modul 1.4 membahas budaya positif, yang juga menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan potensi murid. Modul 2.1 membahas pembelajaran berdiferensiasi, yang membantu guru mengakomodasi kebutuhan belajar murid, sementara modul 2.2 membahas pembelajaran emosional dan sosial, yang juga mendukung pengembangan kepemimpinan murid.

Secara keseluruhan, modul ini memperluas pemahaman saya tentang pengambilan keputusan yang berbasis aset dan pentingnya kepemimpinan murid dalam menciptakan pembelajaran yang berdampak positif. Modul-modul sebelumnya juga memberikan dasar-dasar yang relevan dan saling melengkapi dengan modul ini dalam upaya mengelola program sekolah yang berpihak pada murid.

Bagaimana perasaan Anda setelah mempelajari modul ini?

Dalam modul 3 Pendidikan Guru Penggerak, saya belajar bahwa pengambilan keputusan dapat bergeser dari pendekatan berbasis masalah (defisit based) menjadi pendekatan berbasis aset. Sebelumnya, saya selalu memprioritaskan hasil evaluasi dan fokus pada kekurangan atau kesalahan dalam pengambilan keputusan. Namun, modul ini mengajarkan bahwa setiap masalah juga memiliki aspek positif yang bisa dijadikan aset.

Sekarang, saya memandang semua hal dari sisi yang positif dan melihat kelebihan sebagai aset yang berharga. Saya tidak lagi memusatkan perhatian pada masalah semata, tetapi mencari kelebihan di balik masalah tersebut. Pendekatan ini telah mengubah paradigma saya dalam pengambilan keputusan.

Menerapkan pendekatan berbasis aset ini memungkinkan saya merancang keputusan atau program yang berdampak positif pada murid dengan lebih mudah. Saya selalu berpikir positif tentang kelebihan dan aset yang dimiliki oleh murid, sehingga saya dapat memanfaatkannya secara efektif. Pendekatan ini memberi saya kekuatan dalam merancang keputusan yang mengoptimalkan potensi murid.

Dengan demikian, pembelajaran modul 3 Pendidikan Guru Penggerak telah mengubah perspektif saya dalam pengambilan keputusan, dari fokus pada masalah menjadi fokus pada aset dan kelebihan.

Apa intisari yang Anda dapatkan dari modul ini?

Kepemimpinan murid (student agency) memainkan peran yang sangat penting dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang meliputi berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Ketika murid menjadi pemimpin dalam proses pembelajaran, mereka memiliki suara (voice), pilihan (choice), dan kepemilikan (ownership) terhadap proses belajar mereka sendiri. Melalui suara, pilihan, dan kepemilikan ini, murid dapat mengembangkan kapasitas diri mereka sebagai pemilik dalam proses belajar.

Tugas guru adalah menciptakan lingkungan yang menumbuhkan budaya di mana murid memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam hal apa yang mereka pikirkan, niat yang mereka tetapkan, bagaimana mereka melaksanakan niat tersebut, dan bagaimana mereka merefleksikan tindakan mereka.

Lingkungan yang mendukung perkembangan kepemimpinan murid memiliki beberapa karakteristik yang penting. Pertama, lingkungan tersebut memberikan kesempatan kepada murid untuk menggunakan pola pikir positif dan merasakan emosi yang positif. Kedua, murid juga dilatih dalam keterampilan berinteraksi sosial secara positif. Ketiga, mereka diberikan keterampilan dalam mencapai tujuan akademik maupun non-akademik. Keempat, mereka diajarkan untuk menerima dan memahami kekuatan dalam diri mereka sendiri, sesama, serta masyarakat dan lingkungan di sekitar mereka. Kelima, lingkungan tersebut membuka wawasan murid dalam menentukan dan menindaklanjuti tujuan, harapan, atau mimpi yang memberikan manfaat dan kebaikan yang melampaui pemenuhan kepentingan individu, kelompok, maupun golongan. Keenam, murid ditempatkan dalam posisi yang mendorong mereka untuk terlibat secara aktif dalam proses belajar mereka sendiri. Ketujuh, lingkungan ini juga berfungsi untuk menumbuhkan daya lenting dan sikap tangguh pada murid agar mereka terus bangkit di tengah kesulitan dan tantangan.

Dengan adanya lingkungan yang menggali dan mendorong karakteristik ini, kepemimpinan murid dapat berkembang secara optimal dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila. Murid akan menjadi lebih aktif, kreatif, dan mandiri dalam proses belajar mereka, serta memiliki rasa memiliki terhadap perjalanan pembelajaran mereka sendiri.

Kepemimpinan murid (student agency) yang dikembangkan melalui lingkungan yang mendukung memiliki dampak yang signifikan dalam proses pembelajaran. Berikut ini adalah beberapa manfaat yang dapat dicapai melalui pengembangan kepemimpinan murid:

 1. Peningkatan motivasi dan keterlibatan: Ketika murid diberikan kesempatan untuk memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam proses belajar mereka, motivasi dan keterlibatan mereka meningkat. Mereka merasa memiliki tanggung jawab terhadap pembelajaran mereka sendiri dan merasa lebih termotivasi untuk mencapai tujuan yang ditetapkan.

2. Peningkatan kemandirian: Kepemimpinan murid melibatkan memberikan mereka tanggung jawab atas keputusan yang mereka buat dalam proses belajar. Hal ini mengembangkan kemandirian mereka dalam mengatur waktu, merencanakan tindakan, dan mengambil inisiatif untuk mencapai tujuan belajar mereka.

3. Pengembangan keterampilan berpikir kritis: Dalam lingkungan yang mendukung kepemimpinan murid, mereka didorong untuk berpikir kritis dan mempertanyakan informasi yang diterima. Mereka diajak untuk melihat berbagai sudut pandang, menganalisis argumen, dan mengambil keputusan berdasarkan pertimbangan yang matang.

4. Peningkatan kreativitas: Ketika murid memiliki kebebasan untuk mengemukakan ide-ide dan mengambil keputusan dalam proses belajar, kreativitas mereka dapat berkembang. Mereka lebih cenderung mencoba pendekatan baru, mengeksplorasi solusi yang inovatif, dan berpikir di luar kotak.

5. Pengembangan keterampilan sosial: Lingkungan yang menumbuhkan kepemimpinan murid juga melibatkan kolaborasi, komunikasi, dan interaksi sosial yang positif. Murid belajar untuk bekerja sama dalam tim, mendengarkan pendapat orang lain, dan membangun hubungan yang saling menghormati.

6. Peningkatan kepercayaan diri: Ketika murid merasa memiliki peran aktif dan memiliki tanggung jawab dalam proses belajar, kepercayaan diri mereka meningkat. Mereka menjadi lebih yakin dengan kemampuan mereka sendiri dan memiliki keyakinan bahwa mereka dapat mencapai kesuksesan dalam belajar dan kehidupan sehari-hari.

7. Pembelajaran seumur hidup: Pengembangan kepemimpinan murid mengajarkan mereka keterampilan dan sikap yang berguna dalam kehidupan sehari-hari. Mereka belajar untuk mengambil tanggung jawab atas pembelajaran mereka, menghadapi tantangan dengan ketangguhan, dan terus mengembangkan diri mereka sendiri.

Dengan memprioritaskan dan mengembangkan kepemimpinan murid dalam proses pembelajaran, guru dapat menciptakan lingkungan yang memungkinkan murid tumbuh dan berkembang secara holistik. Hal ini juga mendukung tercapainya Profil Pelajar Pancasila yang diharapkan, dengan murid yang berakhlak mulia, berke binekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif. Kepemimpinan murid memainkan peran kunci dalam membentuk murid-murid yang memiliki karakteristik tersebut.

Melalui kepemimpinan murid, mereka diajak untuk mengambil tanggung jawab atas pembelajaran mereka sendiri. Mereka belajar untuk mengenali kekuatan dan kelemahan diri mereka, mengatur tujuan belajar yang realistis, dan mengambil langkah-langkah konkret untuk mencapainya. Dalam proses ini, mereka mengembangkan kemandirian yang esensial dalam menghadapi tantangan dan mencapai kesuksesan di dunia nyata.

Selain itu, kepemimpinan murid juga mendorong mereka untuk berpikir kritis. Mereka diajak untuk menganalisis informasi, mengevaluasi argumen, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti yang ada. Hal ini memungkinkan mereka untuk mengembangkan kemampuan berpikir yang analitis dan objektif, yang menjadi landasan bagi pengembangan pemikiran yang bernalar kritis.

Kepemimpinan murid juga melibatkan pengembangan kreativitas. Dalam lingkungan yang memberikan mereka suara dan pilihan, murid diajak untuk berpikir di luar batasan dan mencoba pendekatan baru dalam menyelesaikan masalah. Mereka didorong untuk mengembangkan ide-ide inovatif dan mengungkapkan keunikan mereka sendiri. Hal ini memperkaya pengalaman belajar mereka dan membantu mereka menghadapi tantangan dengan cara yang kreatif.

Selain itu, kepemimpinan murid juga membantu dalam mengembangkan keterampilan sosial. Dalam lingkungan yang memberikan mereka ruang untuk berpartisipasi aktif, murid belajar untuk berkomunikasi dengan jelas, mendengarkan pendapat orang lain, dan bekerja sama dalam tim. Mereka juga belajar untuk menghargai perbedaan, membangun hubungan yang saling menguntungkan, dan berkontribusi dalam masyarakat secara positif.

Melalui pengembangan kepemimpinan murid, guru menyediakan lingkungan yang memungkinkan murid untuk tumbuh dan berkembang secara holistik. Mereka didorong untuk mengeksplorasi potensi mereka, mengatasi hambatan, dan mengambil peran aktif dalam pembelajaran mereka. Dengan demikian, kepemimpinan murid menjadi kunci dalam mewujudkan Profil Pelajar Pancasila yang diharapkan, di mana murid memiliki akhlak mulia, kebinekaan global, kemandirian, semangat bergotong royong, kemampuan bernalar kritis, dan kreativitas yang berkembang secara optimal.

Apa  keterkaitan yang dapat Anda lihat antara Modul ini dengan modul-modul sebelumnya?

Dalam upaya mengelola program sekolah yang berdampak pada murid, langkah-langkah yang teliti dan tepat harus diambil. Modul-modul yang telah disusun secara terkait saling mendukung dan melengkapi satu sama lain dalam memberikan pembelajaran yang berpihak pada murid.


Pada Modul 1.1, dikemukakan bahwa guru memiliki peran strategis dalam membimbing anak-anak sesuai dengan kodrat mereka agar dapat bahagia dan berkembang sebagai anggota masyarakat. Dalam mengelola program sekolah, penting melibatkan murid dan memperhatikan pengembangan potensi serta kodrat mereka. Modul ini juga menekankan bahwa setiap murid adalah individu unik yang perlu dituntun sesuai dengan kodratnya oleh guru.


Modul 1.2 membahas nilai dan peran guru penggerak. Seorang guru penggerak harus memiliki nilai-nilai seperti mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Peran guru penggerak tidak terlepas dari tujuan mulia untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila dan merdeka belajar. Sebagai pemimpin dalam pengelolaan program sekolah yang berpihak pada murid, seorang guru juga memiliki tanggung jawab yang penting.


Modul 1.3 membahas visi guru penggerak. Seorang guru perlu memiliki visi yang mengarah pada perubahan, baik di kelas maupun di sekolah. Untuk mencapai perubahan tersebut, diperlukan pendekatan manajemen perubahan. Salah satu pendekatan yang disebutkan adalah Inkuiri Apresiatif (IA). Dalam merencanakan dan mengelola program yang berdampak pada murid, pendekatan inkuiri apresiatif model BAGJA digunakan dengan memetakan aset atau sumber daya sekolah, dan mengembangkan potensi tersebut untuk merencanakan program sekolah yang berdampak pada murid.


Modul 1.4 membahas budaya positif. Lingkungan yang mendukung perkembangan potensi, minat, dan profil belajar murid, terutama memperhatikan kekuatan kodrat pada anak-anak. Seperti seorang petani, guru harus mampu mengoptimalkan sumber daya lingkungan yang positif dan mengembangkan budaya positif agar anak-anak dapat tumbuh sesuai dengan kodrat alam dan tuntutan zaman, serta mendukung program yang berdampak pada murid.


Modul 2.1 membahas pembelajaran untuk memenuhi kebutuhan belajar murid. Guru dapat menggunakan pembelajaran berdiferensiasi untuk memberikan layanan pembelajaran yang berpihak pada murid. Pembelajaran berdiferensiasi ini menjadi solusi untuk mengakomodasi karakteristik dan kecerdasan yang beragam pada murid. Sebelum merencanakan pembelajaran berdiferensiasi, guru perlu melakukan pemetaan terhadap kebutuhan belajar, minat, dan profil belajar murid untuk mengetahui aset atau kekuatan yang dimiliki oleh mereka.


Modul 2.2 membahas pembelajaran emosional dan sosial. Guru dilatih untuk mengembangkan kompetensi sosial pada diri murid. Teknik kesadaran diri (mindfulness) digunakan sebagai strategi pengembangan lima kompetensi sosial dan emosional yang didasarkan pada program yang berpihak pada murid dan mewujudkan konsep merdeka belajar serta budaya positif di sekolah.


Modul 2.3 membahas coaching untuk supervisi akademik. Coaching digunakan sebagai teknik atau strategi pemimpin pembelajaran untuk membimbing dan menggali potensi yang dimiliki oleh murid. Coaching juga memberikan keleluasaan pada murid untuk berkembang dan menggali proses berpikir mereka. Dalam pengelolaan program yang berdampak pada murid, coaching dapat digunakan sebagai strategi untuk mengembangkan sumber daya murid, meningkatkan kepemimpinan mereka, dan menggali potensi mereka guna mencapai tujuan pendidikan, yaitu keselamatan dan kebahagiaan anak sebaik-baiknya.


Modul 3.1 membahas pengambilan keputusan berdasarkan nilai-nilai kebajikan seorang pemimpin. Sebagai pemimpin pembelajaran, guru dapat mengambil keputusan secara bijak yang berpihak pada murid. Keputusan-keputusan tersebut harus didasarkan pada dasar, prinsip, paradigma, atau nilai-nilai yang konsisten, terutama dalam menghadapi dilema etika atau bujukan moral.


Modul 3.2 membahas peran pemimpin dalam pengelolaan sumber daya. Guru sebagai pemimpin pembelajaran dan pengelola program sekolah harus mampu memetakan dan mengidentifikasi aset-aset yang ada di sekolah, baik fisik maupun non-fisik. Pendekatan berbasis aset atau kekuatan (asset-based thinking) lebih efektif dalam mengoptimalkan potensi yang dimiliki oleh sekolah sebagai komunitas belajar, dibandingkan dengan pendekatan berbasis masalah atau kekurangan (deficit-based thinking). Paradigma berpikir harus melihat sisi positif yang dimiliki oleh sekolah. Dengan berfokus pada aset yang ada, pengelolaan program yang berdampak pada murid dapat terencana dengan baik.


Modul 3.3 membahas pengelolaan program yang berdampak positif pada murid dengan memanfaatkan 7 aset atau modal yang dimiliki sekolah, yaitu modal manusia, modal sosial, modal fisik, modal lingkungan/alam, modal finansial, modal politik, dan modal agama dan budaya. Dengan memahami aset atau sumber daya yang tersedia di sekolah, seorang guru sebagai pemimpin harus mampu memetakan ke-7 aset tersebut dan mengoptimalkan pengelolaannya guna meningkatkan pembelajaran di sekolah yang berdampak positif pada murid.

Secara keseluruhan, langkah-langkah yang disajikan dalam modul-modul ini memberikan panduan bagi guru dalam mengelola program sekolah yang berdampak pada murid. Dengan melibatkan murid, mengembangkan potensi mereka, menciptakan lingkungan belajar yang positif, menggunakan pendekatan yang sesuai, dan mengoptimalkan sumber daya yang ada, guru dapat menciptakan pemb elajaran yang relevan, bermakna, dan memberikan dampak positif pada murid. Pemahaman akan nilai-nilai kebajikan, peran guru penggerak, visi yang mengarah pada perubahan, dan pembelajaran yang diferensiasi menjadi landasan dalam merancang program sekolah yang efektif.

Dalam mengelola program sekolah, guru harus melihat murid sebagai individu yang unik dengan potensi dan kebutuhan belajar yang berbeda-beda. Dengan memanfaatkan teknik coaching, guru dapat memberikan bimbingan yang sesuai untuk menggali potensi murid dan mengembangkan kepemimpinan mereka. Pembelajaran emosional dan sosial juga menjadi fokus penting, di mana guru dilatih untuk mengembangkan kompetensi sosial murid melalui kesadaran diri dan pengembangan lima kompetensi sosial-emotional.

Pemimpin pembelajaran harus mengambil keputusan yang berpihak pada murid, dengan mempertimbangkan nilai-nilai kebajikan dan prinsip etika. Selain itu, pemimpin juga bertanggung jawab dalam mengelola sumber daya sekolah dengan pendekatan berbasis aset atau kekuatan, yang melihat sisi positif yang dimiliki oleh sekolah. Dengan memanfaatkan ke-7 aset yang ada, guru dapat merencanakan dan mengelola program sekolah yang berdampak positif pada murid.

Pengelolaan program sekolah yang berdampak pada murid juga melibatkan budaya positif, di mana guru harus menciptakan lingkungan yang mendukung perkembangan potensi dan minat murid. Pendekatan inkuiri apresiatif digunakan untuk merencanakan program sekolah yang berfokus pada pengembangan aset dan potensi sekolah.

Dalam keseluruhan pembahasan ini, penting untuk mengakui bahwa program sekolah yang berdampak pada murid haruslah holistik dan komprehensif. Guru sebagai pemimpin pembelajaran memiliki peran sentral dalam merancang dan mengelola program tersebut. Dengan memahami nilai-nilai kebajikan, mengoptimalkan sumber daya sekolah, mengembangkan potensi murid, serta menciptakan lingkungan belajar yang positif, guru dapat mencapai tujuan utama pendidikan yaitu memberikan pengalaman pembelajaran yang bermakna dan memberikan dampak positif bagi murid.

Jelaskan perspektif program yang berdampak positif pada murid dan bagaimana program atau  kegiatan sekolah harus direncanakan, dilaksanakan, dan dievaluasi agar program dapat berdampak positif pada murid?

Perspektif program yang berdampak positif pada murid melibatkan pendekatan yang holistik dan komprehensif, dengan mempertimbangkan berbagai aspek penting dalam pembelajaran dan pengembangan murid. Berikut adalah langkah-langkah yang perlu diambil dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program atau kegiatan sekolah agar dapat berdampak positif pada murid:

1. Rencana Program: Mulailah dengan merencanakan program atau kegiatan sekolah secara matang. Identifikasi tujuan yang jelas dan spesifik yang ingin dicapai melalui program tersebut. Pastikan program tersebut mendukung pencapaian Profil Pelajar Pancasila yang meliputi berakhlak mulia, berkebinekaan global, mandiri, bergotong royong, bernalar kritis, dan kreatif.

2. Desain Pembelajaran: Selanjutnya, desainlah pembelajaran yang relevan dan bermakna bagi murid. Sesuaikan metode, strategi, dan materi pembelajaran dengan kebutuhan dan karakteristik murid. Gunakan pendekatan yang berfokus pada pengembangan aset dan potensi murid, serta memberikan kesempatan bagi mereka untuk memiliki suara, pilihan, dan kepemilikan dalam proses belajar.

3. Pelaksanaan Program: Implementasikan program atau kegiatan sekolah dengan memastikan adanya dukungan dan keterlibatan aktif dari semua pihak terkait, termasuk guru, siswa, orang tua, dan staf sekolah. Ciptakan lingkungan yang mendukung budaya positif dan kolaboratif, di mana murid merasa didukung dan termotivasi untuk berkembang secara holistik.

4. Evaluasi dan Pemantauan: Selama pelaksanaan program, lakukan evaluasi dan pemantauan secara berkala untuk mengukur dampak dan efektivitasnya. Gunakan berbagai alat evaluasi seperti tes, observasi, atau penilaian formatif dan sumatif. Identifikasi kekuatan dan kelemahan program untuk mendapatkan masukan yang berharga dalam perbaikan dan pengembangan lebih lanjut.

5. Pengembangan Berkelanjutan: Berdasarkan hasil evaluasi, lakukan perbaikan dan pengembangan program secara berkelanjutan. Libatkan guru, siswa, dan pihak terkait lainnya dalam proses perbaikan tersebut. Dengan mengadopsi siklus perbaikan berkelanjutan, program sekolah dapat terus berkembang dan meningkatkan dampak positifnya pada murid.

6. Kolaborasi dan Pertukaran Informasi: Selain itu, penting untuk berkolaborasi dan berbagi informasi dengan sekolah lain, komunitas pendidikan, atau institusi terkait. Dengan melakukan pertukaran pengalaman dan pengetahuan, sekolah dapat memperluas wawasan dan memperkaya program mereka dengan praktik terbaik yang telah terbukti efektif.

Dalam keseluruhan, penting untuk mengadopsi pendekatan yang progresif dan berfokus pada pengembangan holistik murid dalam merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi program atau kegiatan sekolah. Dengan mempertimbangkan kebutuhan dan potensi murid, serta mel anjutkan program atau kegiatan sekolah yang berdampak positif pada murid, sekolah dapat menciptakan lingkungan pembelajaran yang memotivasi dan mendorong murid untuk aktif berpartisipasi dalam proses belajar mereka.

Selain itu, penting untuk melibatkan murid dalam merencanakan dan mengevaluasi program sekolah. Memberikan mereka kesempatan untuk memiliki suara, membuat pilihan, dan memiliki rasa kepemilikan terhadap proses belajar mereka akan meningkatkan rasa tanggung jawab dan keterlibatan mereka. Guru harus memberikan ruang bagi murid untuk mengungkapkan pendapat mereka, menerima masukan mereka, dan memfasilitasi partisipasi aktif dalam pembuatan keputusan terkait program atau kegiatan sekolah.

Dalam proses evaluasi, fokus pada pencapaian tujuan yang telah ditetapkan dan dampak yang diharapkan dari program tersebut. Evaluasi tidak hanya sebatas pada aspek akademik, tetapi juga meliputi perkembangan sosial, emosional, dan keterampilan hidup murid. Dengan melibatkan murid dalam evaluasi, mereka dapat memberikan umpan balik tentang pengalaman mereka dan kontribusi mereka terhadap program.

Selain itu, penting untuk memperhatikan keberlanjutan program. Program atau kegiatan sekolah yang berdampak positif pada murid tidak boleh hanya bersifat sekali jalan. Perencanaan jangka panjang dan pengembangan berkelanjutan harus menjadi bagian integral dari strategi sekolah. Ini dapat melibatkan pengembangan kurikulum yang terus-menerus, pengembangan profesional guru, peningkatan fasilitas fisik dan sumber daya, serta keterlibatan aktif dari orang tua dan masyarakat dalam mendukung program tersebut.

Penting juga untuk berbagi dan menyebarkan hasil dan pembelajaran dari program atau kegiatan sekolah yang berdampak positif. Melalui kolaborasi dengan sekolah lain, organisasi pendidikan, dan pemangku kepentingan lainnya, sekolah dapat menjadi bagian dari gerakan yang lebih luas untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan memberikan manfaat yang lebih besar kepada murid.

Secara keseluruhan, program atau kegiatan sekolah yang berdampak positif pada murid membutuhkan perencanaan yang cermat, pelaksanaan yang efektif, dan evaluasi yang terus-menerus. Dengan melibatkan murid dalam proses ini, membangun lingkungan pembelajaran yang mendukung, dan menjaga keberlanjutan program, sekolah dapat menciptakan pengalaman pendidikan yang bermakna dan memenuhi kebutuhan holistik murid.


Posting Komentar untuk "Koneksi Antar Materi 3.3"