Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 2.3

 



Pada kali ini saya akan sedikit berbagi mengenai apa yang sudah saya dapatkan dalam pembelajaran pada modul 2.3 mengenai Coaching untuk Supervisi Akademik. Jurnal refleksi dwimingguan adalah sebuah tulisan tentang refleksi diri setelah mengikuti sebuah kegiatan pelatihan (upgrading skill) yang ditulis secara rutin setiap dua mingguan sesuai dengan pengalaman saya dalam proses pendidikan guru penggerak ini

Jadi, kali ini saya akan menulis mengenai refleksi saya mengenai kegiatan-kegiatan pelatihan yang sudah kami lalui, khususnya pada modul 2.3 mengenai Coaching untuk Supervisi Akademik. Dalam menulis jurnal refleksi ini saya menggunakan model 1 yaitu model 4F (1. Fact; 2. Feeling; 3. Findings; dan 4. Future), yang diprakarsai oleh Dr. Roger Greenaway. 4F dapat diterjemahkan menjadi 4P (1. Peristiwa; 2. Perasaan; 3. Pembelajaran; dan 4. Penerapan)

1. Facts (Peristiwa)

Peristiwa yang saya alami dalam pembelajaran kali ini sangat penting untuk memperbaiki cara belajar saya karena saya mendapatkan pengalaman memamahami apa yang sebelumnya saya belum tahu dan hanya mendengar saja. "Memenuhi Kebutuhan Belajar Murid Melalui Pembelajaran Berdiferensiasi" saya awalnya bingung mengenai judulnya namun setelah mempelajari modul ini saya mulai mengerti pentingnya dari materi ini yang memang sesuai denga filosofi pemikiran Ki Hadjar Dewantar yakni mendidik anak harus sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zaman.

Apa saja yang saya pelajari pada modul kali ini?

Berikut saya uraikan sedikit apa yang telah saya alami pada modul ini :

Beberapa link tugas yang sudah saya buat :

Demonstrasi Kontekstual

https://drive.google.com/file/d/1XLTRFOeybeTHiJmkl3SWg0-TOSRZl6h4/view?usp=share_link

Koneksi Antar Materi 

2. Feelings (Perasaan)

Selama saya mempelajari Modul 2.3 ini perasaan saya sangat senang, karena bisa menambah pengalaman dan ilmu baru mengenai Coaching untuk Supervisi Akademik dan saya baru tahu ketika telah mempelajari modul ini, ternyata Supervi akademik yang biasa saya dapatkan kurang tepat karena hanya berpatokan pada nilai dan menggugurkan tugas saja tanpa ada evaluasi dan refleksi setelah dilaksanakan supervisi. pada modul ini saya di berikan pembelajaran bahkan melakukan praktik bagaimana melakukan supervisi akademik yang baik dengan menggunakan beberapa metode dan salahsatunya dengan Coaching.  diawali dengan Pra Observasi, Observasi dan di akhiri dengan pasca observasi.  Dengan membiasakan diri dan terus berlatih saya yakin bisa menerapkannya di Sekolah dan bisa memberikan pemahaman dan berbagi pengalaman dengan rekan sejawat.

3. Findings (Pembelajaran)

Pembelajaran yang dapat saya ambil dari materi kali ini memberikan saya gambaran baru mengenai Coaching untuk Supervisi Akademik. Coaching adalah proses kolaboratif, fokus pada solusi, berorientasi pada hasil, dan sistematis yang memfasilitasi peningkatan kinerja, pengalaman hidup, pembelajaran mandiri, dan pertumbuhan pribadi dari yang menerima coaching. Coaching lebih tentang membantu seseorang belajar daripada mengajarkan mereka. Proses coaching memberikan ruang bagi coach untuk mengeksplorasi semua potensi yang ada dalam diri yang menerima coaching sehingga mereka dapat berkembang dari pemikiran saat ini menjadi pemikiran masa depan.

Coaching adalah percakapan yang memberdayakan, sehingga dalam proses coaching, seorang coach harus dapat mengajukan pertanyaan yang berat dan memiliki potensi untuk mendapatkan jawaban yang menantang dari yang menerima coaching dari dalam dirinya sendiri. Oleh karena itu, dalam proses coaching, seorang coach perlu memiliki keterampilan bertanya untuk mengeksplorasi dan membimbing yang menerima coaching untuk menemukan solusi atas masalah mereka, mengimplementasikan, dan merasakan dampaknya sendiri.

Dalam konteks pendidikan, coaching adalah proses komunikasi pembelajaran antara guru dan siswa, di mana siswa diberikan kebebasan untuk menemukan kekuatan mereka, dan peran pendidik sebagai "mentor" dalam memberikan bimbingan dan memberdayakan potensi yang ada sehingga siswa tidak kehilangan arah dan menemukan kekuatan mereka sendiri tanpa membahayakan diri sendiri. Seorang guru sebagai coach dapat mengembangkan yang menerima coaching secara maksimal. Proses coaching yang sukses akan menghasilkan kekuatan bagi baik coach maupun yang menerima coaching untuk terus berkembang. Oleh karena itu, pemahaman akan paradigma coaching diperlukan. Paradigma coaching meliputi fokus pada yang menerima coaching yang sedang dikembangkan, terbuka dan rasa ingin tahu, memiliki kesadaran diri yang kuat, dan mampu melihat peluang dan masa depan yang baru.

Dalam proses coaching, perlu dibangun rasa aman dan kenyamanan dari kedua belah pihak, dan coach perlu dapat membangun kemitraan dengan yang menerima coaching sehingga dapat terjadi proses percakapan kreatif, yang dapat merangsang pemikiran yang menerima coaching untuk memaksimalkan semua potensi mereka. Coach juga perlu memiliki kompetensi yang mendukung proses coaching, seperti kehadiran penuh, mendengarkan aktif, dan mengajukan pertanyaan yang berat.

Proses coaching akan berjalan lancar dan menghasilkan pengembangan yang maksimal jika percakapan mengikuti Alur TIRTA. Alur TIRTA adalah singkatan dari tahapan percakapan coaching yang terdiri dari Tujuan, Identifikasi, Rencana Aksi, dan Tanggung Jawab. Proses coaching dengan menggunakan Alur TIRTA dapat memberikan panduan bagi coach dalam memfasilitasi siswa atau rekan-rekan sehingga mereka dapat belajar dari situasi yang dihadapi dan membuat keputusan bijaksana dari masalah mereka. Inilah yang membuat kita memiliki paradigma, prinsip, dan keterampilan coaching. Dengan memiliki ketiga hal ini, kita dapat membimbing siswa atau rekan-rekan untuk mengembangkan potensi

4. Future (Penerapan)

Penerapan yang akan saya lakukan adalah melakukan latihan terus menerus dengan rekan sejawat sekaligus memberikan pemahaman serta berbagi informasi kepada mereka mengenai coaching, dengan coaching kita bisa menyelesaikan permasalahan dan melakukan supervisi akademik lebih terarah dan terukur serta memiliki beberapa manfaat diantaranya :

  1. Meningkatkan kualitas pembelajaran: Dengan metode coaching, supervisi akademik dapat membantu guru dalam mengembangkan keterampilan mengajar dan meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru akan difasilitasi untuk menemukan solusi yang tepat dan terbaik dalam mengatasi masalah-masalah pembelajaran.
  2. Meningkatkan motivasi dan kinerja guru: Coaching dapat membantu guru merasa lebih termotivasi dalam bekerja dan memperbaiki kinerja mereka. Melalui coaching, guru dapat mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan mereka dalam mengajar dan belajar untuk meningkatkan kinerja mereka.
  3. Meningkatkan keterampilan kepemimpinan: Supervisi akademik dengan metode coaching juga dapat membantu guru dalam mengembangkan keterampilan kepemimpinan. Seorang coach dapat membantu guru dalam merencanakan dan mengimplementasikan tindakan yang efektif dalam memimpin kelas atau tim pengajar.
  4. Membantu guru dalam mencapai tujuan: Dalam proses coaching, seorang coach akan membantu guru untuk menetapkan tujuan yang jelas dan merencanakan tindakan konkret untuk mencapainya. Hal ini dapat membantu guru menjadi lebih fokus dan terorganisir dalam pekerjaannya.
  5. Meningkatkan kemampuan guru dalam memberikan umpan balik: Supervisi akademik dengan metode coaching juga dapat membantu guru dalam memberikan umpan balik yang efektif dan konstruktif kepada siswa. Seorang coach dapat membantu guru dalam mengidentifikasi kekuatan dan kelemahan siswa serta mengeksplorasi strategi pembelajaran yang efektif.

Dengan manfaat-manfaat tersebut, supervisi akademik dengan metode coaching dapat menjadi salah satu cara yang efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran dan kinerja guru di sekolah. 



Posting Komentar untuk "Jurnal Refleksi Dwimingguan Modul 2.3"