Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

1.2.a. 3 Mulai dari Diri


 اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَا تُهُ

Modul 1.2.a.3 ini kita disuguhkan kembali dengan Mulai dari diri, Tujuan Pembelajaran Khusus dari modul ini adalah 

  1. CGP dapat mengidentifikasi nilai-nilai diri sendiri, yang selama ini melekat dalam pribadinya.
  2. CGP dapat menjelaskan peran dirinya sebagai seorang Guru di dalam lingkungan sekolahnya masing-masing

 untuk menyelesaikan modul ini saya mencoba untuk menuangkannya dalam blog ini, berikut pemaparan saya mengenai modul 1.2.a.3 Mulai dari Diri 

Trapesium Usia

Tugas 1.

1. Apa peristiwa positif dan negatif yang saya tuliskan pada trapesium usia?

 

Peristiwa Negatif :

Saat lulus dari SMP kira-kira pada saat saya berumur 16 tahun saya berencana untuk meneruskan sekolah ke jenjang yang lebih tinggi lagi, meskipun berasal dari keluarga yang kurang mampu tapi saya dengan prestasi yang saya miliki, namun saat itu nasib berkata lain saya tidak lolos masuk ke SMA yang saya inginkan di kota saya karena kalah nilai dari orang lain, sempat putus asa untuk tidak melanjutkan dulu sekolah namun saya diberi motivasi dari kakek saya untuk melanjutkan ke sekolah kejuruan pertanian, beliau bilang “Pendidikan dimanapun sama, sayang waktu jika tidak melanjutkan sekolah” sehingga pada saat itu saya dengan terpaksa menuruti apa yang kakek bilang.  Singkat cerita saya langsung mendaftar ke SMK yang direkomendasikan kakek dan memilih jurusan Pertanian, ternyata Tidak hanya sampai disitu hal negative yang saya alami, saat mendaftar ke jurusan yang saya pilih saya tidak diterima lagi karena postur tubuh saya yang kecil dan pendek jadi tidak bisa memenuhi persyaratan tinggi badan di jurusan itu sehingga saya disarankan masuk ke jurusan perikanan dan dengan terpaksa lagi saya masuk ke jurusan yang tidak saya inginkan pada “awalnya”

 

Peristiwa Positif :

Pada saat saya kelas XI di SMK yang pada awalnya saya terpaksa masuk kesekolah dan jurusanya saat itu, Ternyata Allah berkehendak lain saya malah merasa bersyukur masuk ke sekolah itu dan jurusan itu ternyata saya bisa banyak mengembangkan potensi saya.  Sehingga pada saat kelas XI kurang lebih pada saat umur 17 tahun saya menjuarai lomba memimpin diskusi tingkat nasional dengan ini saya bisa mengharumkan nama sekolah saya

 

2. Selain saya, siapa lagi yang terlibat di dalam masing-masing peristiwa tersebut?

Yang terlibat dalam kedua peristiwa tersebut adalah keluarga dan teman, keluarga membantu saya untuk menemukan pilihan lain Ketika pilihan saya kandas, mereka mendorong saya untuk bangkit dan keluar dari keterpurukan saya sehingga saya akhirnya bisa berbangga dengan pilihan yang awalnya tidak saya sukai itu, teman merupakan faktor pendukung lain yang membentuk karakter saya selain keluarga, dengan teman yang solid dan baik saya bisa menghadapi dan menjalani hari-hari awal Ketika saya menjalani kehidupan pada pilihan yang tidak saya suka mereka pun ikut mendorong saya untuk menjadi pribadi yang berani dan tegar sehingga saya bisa menjadi juara

 

3. Dampak emosi apa yang saya rasakan hingga sekarang?

Dampak emosi yang selalu berbekas dan selalu saya ingat adalah rasa senang dan Bahagia yang muncul dari rasa kekecewaan dan kekesalan saya, saya selalu berfikir untuk menghadapi semua masalah dengan tegar dan kuat karena diballik ini pasti ada hikmah yang menunggu.  Perasaan ini lah yang membuat kedua kejadian tadi selalu berbekas dalam ingatan saya

 

4. Mengapa momen yang terjadi di masa sekolah masih dapat saya rasakan dan masih dapat mempengaruhi diri saya di masa sekarang?

Momen disekolah akan selalu berbekas karena pada saat itu kita adalah pribadi yang sedan mencari jati dirinya yang secara tidak langsung telah terpatri di ingatan sampai sekarang, hal ini bukan hanya sekedar kebetulan semata pada saat usia sekolah tersebut kita mulai mengenali dunia luar mulai meraba bagaimana kehidupan yang nyata itu, dengan dibekali pengetahuan, wawasan, lingkungan pertemanan yang berbeda latar belakang jadi kita akan mulai terbawa alur dan perlahan-lahan mulai terbiasa dan terbawa sampai saat ini.  Selain itu semua pengalaman yang terjadi baik negative maupun positif selalu saya bagikan pada rekan dan murid saya sampai saat ini dengan kata kunci “akibat muncul karena ada sebab”

 

5. Pelajaran hidup apa yang saya peroleh dari kegiatan trapesium usia dan roda emosi, terkait peran saya sebagai guru terhadap peserta didik saya?

 


Pelajaran hidup yang bisa saya ambil dari Trapesium kehidupan dan Roda emosi adalah  usia menentukan pembentukan karakter, Jenjang usia memiliki kebutuhan Pendidikan yang berbeda, untuk membentuk karakter kuat, mandiri dan berbudi pekerti bagus dari seorang anak harus dilakukan Ketika anak itu masih dalam masa Pendidikan karena pada kondisi saat itu anak sedang memahami lingkungan, jati diri dan kehidupannya yang akan sangat berpengaruh kepada mereka dikemudian hari.  Pemolesan anak tidak hanya di lingkungn sekolah saja namun lingkungan pertemanan dan keluarga juga memiliki andil dalam pemolesan karakter anak, sehingga kita sebagai guru harus bisa mengkolaborasikan ketiga aspek kehidupan tersebut yakni sekolah, keluarga dan teman seperti yang saya ilustrasikan pada gambar dibawah ini

 


6. Bagaimana saya menuliskan nilai-nilai yang saya yakini sebagai seorang guru dalam satu atau dua kalimat menggunakan kata-kata "guru", "murid", "belajar", "makna", "peran"?

Peran dari seorang Guru adalah memberikan cara Belajar yang bermakna pada Murid

 

 

Tugas 2.

 

1. Apa nilai-nilai dalam diri saya yang membantu saya menggerakkan murid, rekan guru dan komunitas sekolah saya?

 

Ada beberapa nilai yang saya miliki untuk bisa menggerakan murid, rekan guru dan komunitas di sekolah diantaranya :

Mandiri.  Saya mencoba menerapkan kemandirian yang sudah saya lakukan untuk orang lain juga mengikutinya terutama pada murid, dengan beberapa pengalaman yang sudah saya miliki saya coba saling bertukar fikiran dan pengalaman dengan murid, guru dan komunitas bagai mana memunculkan kemandirian dalam diri, dan mengatasi masalah yang dihadapi

Kerja Keras.  Saya tipe orang yang tidak akan berhenti sebelum pekerjaan tuntas, saya memotivasi rekan guru dan murid serta komunitas untuk bekerja keras dalam melakukan segala sesuatu karena semakin kita menyimpan pekerjaan maka semakin bertambah pula pekerjaan itu, selesaikanlah secepat mungkin itu yang selalu saya utarakan pada mereka

Kreatif dan inovatif

Kelebihan lain yang saya miliki adalah kreatif dan inovatif.  Saya mencoba berfikir diluar kebiasaan yang membuat itu menjadi solusi dari beberapa masalah, mencoba untuk keluar dari zona nyaman dan rutinitas yang sudah biasa, berfikir dan berbuatlah hal baru yang bisa berguna bagi orang lain, dengan cara berfikir seperti ini kita tidak akan merasa jenuh dalam melakukan pekerjaan

Ramah dan lemah lembut

Sifat ini saya miliki dari dulu sejak kecil karena dididik oleh orang tua untuk memililki sifat ini sehingga samapi saat ini kedua sifat tersebut masih menempela dalam diri saya, dengan kedua sifat ini saya lebih dekat dengan orang lain baik itu murid, rekan guru maupun komunitas

 

2. Apa peran yang selama ini saya mainkan dalam menggerakkan murid, rekan guru, dan komunitas sekolah saya.

 

Dalam menggerakkan murid, rekan guru dan komunitas di sekolah, saya lebih berpenran sebagai pemberi contoh, dengan memberikan hasil nyata yang dapat di lihat, diraba dan dirasakan oleh semua orang saya bisa menggerakkan semuanya, selain itu saya mudah membaur dengan orang lain sehingga bisa menjaga komunikasi dan mempengaruhi orang lain. Selalu mengosongkan gelas terlebih dahulu sebelum berkomunikasi, artinya Ketika kita akan berkomunikasi atau berdiskusi kita harus bisa jadi pendengar yang baik, menampung semua aspirasi menganalisis kejadian dan menentukan solusi jika muncul masalah.

berikut saya lampirkan juga catatan dokumennya



Suhara, SP., Gr

CGP Angkatan 7

SMK PPN Tanjungsari

Posting Komentar untuk "1.2.a. 3 Mulai dari Diri"