Lingkungan Hidup Perikanan
[highlight]
materi ini masih tahap preview silahkan cermati terlebih dahulu slidenya terlebih dahulu
Lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan perikehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lain. Sedangkan ruang lingkup lingkungan hidup Indonesia meliputi ruang, tempat Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berwawasan Nusantara dalam melaksanakan kedaulatan, hak berdaulat, dan yurisdiksinya (Menurut Undang Undang No. 23 Tahun 1997)
Untuk kali ini kitan akan sedikit mengulas mengenai beberpa faktor yang perlu diperhatikan dalam pengelolaan lingkungan hidup terutama pada budidaya perikanan.
1. Hubungan manusia dengan lingkungan
a. Ketergantungan pada Lingkungan
Untuk mendapatkan sumber daya penting, manusia bergantung pada
lingkungan untuk kelangsungan hidup (misalnya udara, air, makanan, tempat
tinggal). Manusia tidak dapat bertahan hidup tanpa suatu bentuk interaksi
dengan lingkungan.
b. Modifikasi Lingkungan
Untuk memenuhi kebutuhannya, manusia memodifikasi lingkungan untuk
memenuhi tujuan dan kebutuhannya sendiri. Aktivitas manusia dapat
berdampak pada lingkungan baik secara positif maupun negatif.
Segala sesuatu yang dilakukan manusia membutuhkan sumber daya yang
disediakan oleh alam untuk hal-hal, seperti energi.
Manusia telah memodifikasi lingkungan fisik dengan membuka lahan
untuk pertanian atau membangun bendungan dan terus mengubah lingkungan melalui
industrialisasi dan pembangunan rumah.
c. Adaptasi dengan Lingkungan
Manusia dapat berubah dan beradaptasi dengan berbagai kondisi
lingkungan untuk kelangsungan hidup dan memenuhi kebutuhannya. Manusia
telah menetap dan beradaptasi dengan pengaturan alam di seluruh dunia (misalnya
Arktik) dan menciptakan sistem canggih (misalnya pemanasan) untuk membantu
mereka bertahan hidup dan berkembang.
Etika Lingkungan berasal dari dua kata,
yaitu Etika dan Lingkungan. Etika berasal dari bahasa yunani yaitu “Ethos” yang berarti adat istiadat atau
kebiasaan. Ada tiga teori mengenai pengertian etika, yaitu:
a. Etika Deontologi
adalah suatu tindakan
di nilai baik atau buruk berdasarkan apakah tindakan itu sesuai atau tidak
dengan kewajiban.
b. Etika Teologi
adalah
baik buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan atau akibat suatu tindakan.
Sedangkan
c. Etika Keutamaan
adalah mengutamakan pengembangan
karakter moral pada diri setiap orang.
Lingkungan adalah segala
sesuatu yang ada di sekitar manusia yang mempengaruhi kelangsungan kehidupan
kesejahteraan manusia dan makhluk hidup lain baik secara langsung maupun secara
tidak langsung.
Jadi, etika lingkungan merupakan
kebijaksanaan moral manusia dalam bergaul dengan lingkungannya.etika lingkungan
diperlukan agar setiap kegiatan yang menyangkut lingkungan dipertimbangkan secara
cermat sehingga keseimbangan lingkungan tetap terjaga.
Seiring berjalannya
waktu ada beberapa teori yang muncul
mengenai etika lingkungan ini diantaranya :
a. Antroposentrisme
Teori ini memandang
bahwa manusia merupakan pusat dari sistem alam semesta. Manusia dan
kepentingannya dianggap yang paling menentukan dalam tatanan ekosistem dan
dalam kebijakan yang diambil dalam kaitan dengan alam, baik secara langsung
atau tidak langsung. Nilai tertinggi adalah manusia dan kepentingannya, hanya
manusialah yang pantas memiliki nilai (Keraf, 2002: 36). Asal katanya dari
bahasa Yunani yaitu: anthropos, artinya manusia, dan dari bahasa Latin
yaitu centrum, yang artinya adalah titik tengah. Doktrin etika yang
mengatakan bahwa manusia adalah fakta sentral dari eksistensi dan bahwa semua
hal yang berhubungan etika harus diukur dengan bagaimana etika itu berpengaruh
kepada kepentingan manusia.
Ada dua
definisi dari antroposentrisme yang dikenal selama ini yaitu: definisi
antroposentris yang pertama ialah: manusia sebagai entitas yang paling
signifikan dari alam semesta. Definisi yang kedua ialah: menafsirkan dunia ke
dalam hal nilainilai kemanusiaan dan pengalaman hidup manusia.
Dengan teori
ini menjadikan kepentingan manusia menjadi yang paling penting dan utama juga
paling tinggi sehingga sesuatu yang lain di alam hanya nilai sebatas fungsinya untuk
menunjang dan memenuhi kebutuhan manusia
Teori ini
mengatakan bahwa makhluk hidup itu bukan hanya diberikan pertimbangan moral,
walaupun selalu dikaitkan kepada kepentingan manusia dan hewan, tetapi juga
mencakup tumbuh-tumbuhan, ganggang, organisme bersel satu, dan mungkin juga
termasuk bakteri dan virus. Teori ini cukup rumit, karena kita harus memberikan
definisi terhadap apa hidup itu? Menurut teori ini semua makhluk hidup perlu
manusia, dalam bentuk ekstrim teori ini mengatakan bahwa hidup dalam setiap
makhluk ciptaan Tuhan memiliki makna moral yang sama.
Teori ini
menegaskan Kembali mengenai setiap bentuk kehidupan dan mahluk hidup mempunyau
nilai dan harga dirinya sendiri sehingga pantas dan perlu mendapatkan
penghargaan dan kepedulian atas nilai dan harga dirinya itu, terlepas apakah bernilai
atau tidak bagi kehidupan manusia
c. Ekosentrisme
Teori etika
lingkungan ekosentris merupakan salah satu versi teori etika yang dikenal juga
dengan istilah Ekologi Dalam (Deep Ecology) (Keraf, 2002:76). Berbeda
dengan teori lainnya, misalnya biosentrisme yang memusatkan perhatian pada
kehidupan seluruhnya, ekosentrisme justeru memusatkan etika pada seluruh
komunitas ekologis, baik yang hidup maupun yang tidak hidup
Teori ini Mengembangkan
wilayah pandangan etika pada seluruh komunitas ekologis, baik yang hidup
(biotik) maupuan yang tidak hidup (abiotik)
Secara
ekologis, sistem alam semesta dibentuk dan disusun oleh system biotik dan abiotik
yang saling berinteraksi satu sama lain, saling membutuhkan, saling melengkapi,
saling mengisi sehingga seluruh entitas ekologis mempunyai kewajiban dan
tanggung jawab moral yang sama
d. Biosentrisme
Etika
lingkungan Zoosentrisme adalah etika yang menekankan perjuangan hak-hak
binatang, karenanya etika ini juga disebut etika pembebasan binatang. Tokoh
bidang etika ini adalah Charles Brich. Menurut etika ini, binatang mempunyai
hak untuk menikmati kesenangan karena mereka dapat merasa senang dan harus
dicegah dari penderitaan. Sehingga bagi para penganut etika ini, rasa senang
dan penderitaan binatang dijadikan salah satu standar moral. Menurut The
Society for the Prevention of Cruelty to Animals, perasaan senang dan
menderita mewajibkan manusia secara moral memperlakukan binatang dengan penuh
belas kasih.
e. Neo-Utilitarisme
Lingkungan neo-utilitarisme merupakan pengembangan etika
utilitarisme Jeremy Bentham yang menekankan kebaikan untuk semua. Dalam konteks
etika lingkungan maka kebaikan yang dimaksudkan, ditujukan untuk seluruh
mahluk. Tokoh yang mempelopori etika ini adalah Peter Singer. Dia beranggapan
bahwa menyakiti binatang dapat dianggap sebagai perbuatan tidak bermoral.
3. Lingkungan Fisik dan perubahan
ekosistem
Dalam lingkungan hidup terdapat
hubungan yang saling berkaitan dan terikat antara semua mahluk hidup dan setiap
mahluk hidup tersebut melakukan interaksi satu sama lain baik itu dengan sesame
mahluk hidup (biotik) maupun dengan lingkungan abiotiknya. Hubungan atau
interaksi tersebut saldan ming berkaitan dan menjadi satu kesatuan fungsi
mahluk hidup dengan lingkungannya yang erat dan saling mempengaruhi dan
membentuk suatu ekosistem ada beberapa macam ekosistem di kehidupan kita
sehari-hari diantaranya :
a. Ekosistem perairan (aquatik)
Ekosistem perairan adalah
lingkungan yang terdiri dari komponen biotik dan abiotik serta didominasi oleh
air sebagai habitat dari komponennya. Ada bagian dari ekosistem ini yang bukan
perairan, tapi jumlahnya kecil. Ekosistem ini dihuni oleh beragam makhluk yang
hidupnya di air ataupun di dua alam (air dan darat). Makhluk hidup ini bisa
berupa binatang dan tumbuhan. Pada ekosistem ini cahaya matahari terbatas. hal
ini karena sulitnya cahaya matahari menembus perairan. Sehingga perubahan suhu
tidak ekstrim. Pada ekosistem ini yang bertindak sebagai produsen adalah
fitoplankton. Sedangkan yang bertindak sebagai konsumen adalah hewan dan juga
predator air
b. Ekosistem darat (terrestrial)
Ekosistem darat ialah ekosistem
yang lingkungan fisiknya berupa daratan. Berdasarkan letak geografisnya (garis
lintangnya). Seperti halnya jenis ekosistem yang lainnya, ekosistem daratan
juga memiliki komponen- komponen yang menyusun ekosistem itu sendiri. Komponen
yang terdapat dalam ekosistem darat ini juga meliputi komponen biotik dan juga
abiotik. komponen abiotik merupakan komponen yang tidak hidup atau berupa benda
mati, sedangkan komponen biotik merupakan komponen yang berupa makhluk hidup.
c. Ekosistem laut dan estuarine
Ekosistem
laut atau disebut juga ekosistem bahari merupakan ekosistem yang terdapat di
perairan laut, terdiri atas ekosistem perairan dalam, ekosistem pantai pasir
dangkal/litoral, dan ekosistem pasang surut.
Ekosistem air laut memiliki ciri-ciri umum sebagai
berikut.
a. Memiliki salinitas tinggi, semakin mendekati
khatulistiwa semakin tinggi.
b. NaCl mendominasi mineral ekosistem laut hingga
mencapai 75%.
c. Iklim dan cuaca tidak terlalu berpengaruh pada
ekosistem laut.
d. Memiliki variasi perbedaan suhu di permukaan
dengan di kedalaman.
Ekosistem
laut juga berperan penting bagi lingkungan di daratan. 50% oksigen yang dihisap
organisme di daratan berasal dari fitoplankton di lautan. Habitat pantai
(estuari, hutan bakau, dan sebagainya) merupakan kawasan paling produktif di
bumi. Ekosistem terumbu karang menyediakan sumber makanan dan tempat berlindung
bagi berbagai jenis organisme dengan keanekaragaman hayati tingkat tinggi di
lautan.
Ekosistem lautan pada umumnya
memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi sehingga diperkirakan
memiliki ketahanan yang baik terhadap spesies invasif. Namun beberapa kasus
yang melibatkan spesies invasif telah ditemukan dan mekanisme yang menentukan
kesuksesan spesies invasif ini belum dipahami secara pasti.

Posting Komentar untuk "Lingkungan Hidup Perikanan"